Partai Gerindra baru saja meresmikan kerjasamanya dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akhir pekan lalu. Beberapa waktu sebelumnya, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN), telah bersepakat untuk bekerjasama dalam Pemilu 2024 mendatang. Yang katanya sedang dalam masa penjajakan, adalah kemungkinan koalisi antara NasDem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat.
Tapi coba perhatikan, terlihat ada kesamaan pola terkait komposisi partai politiknya dari ketiga calon kutub koalisi di atas.
Apakah itu suatu kebetulan? Ataukah hal tersebut merupakan respon dari adanya ampas berwujud keterbelahan akibat dari praktik politik identitas pada kontestasi pilpres sebelumnya itu??
Entahlah!
Yang jelas, sejauh ini seperti sedang terjadi kocok ulang pada bentukan pola pada pilpres sebelumnya. Seperti diketahui, pada pilpres terakhir yang lalu, Gerindra berkongsi dengan PKS, PAN, dan Partai Demokrat.
Tapi lihatlah sekarang, mereka menyebar pada tiga kutub yang sejauh ini sudah terbentuk. Gerindra dengan PKB yang sebelumnya berseberangan. Golkar dan PPP mesra dengan PAN yang pada pilpres lalu di pihak Gerindra. Sementara PKS dan Partai Demokrat yang oposisi kemungkinan kerjasama dengan NasDem yang berada seperti di ketahui saat ini di pihak pemerintah.
Dari yang terlihat di atas, untuk sementara tentu harapan untuk sebuah proses politik selanjutnya yang tanpa harus menghasilkan keterbelahan, bolehlah meninggi. Ada peluang pileg dan pilpres 2024 nanti akan meninggalkan praktik SARA dan penghakiman atas identitas.
Tapi harapan itu saja belum cukup. Untuk tetap menjaga agar harapan itu tetap ada dan semakin nyata, tentunya partai-partai itu harus punya komitmen kuat untuk menunjukkan antipatinya pada praktik dan penikmat politik identitas sebelumnya. Jangan diberi panggung pada mereka yang memanfaatkan politik identitas sebelumnya. Buang figur dan kelompok itu jauh-jauh.
Kesadaran penuh harus mulai ditumbuhkan. Toh sebenarnya dari pihak yang saling berseberangan saat ini –terutama di media sosial--, praktik politik identitas lazim dilakukan. Umpatan dan stigma kafir, China, Arab, Yaman, komunis, antek aseng-asing, nyatanya masih berserakan di sana.
Kelompok dan orang berisi otak seperti itu, hendaknya tidak dipancing oleh elit politik bernalar pendek yang hanya memikirkan dan memuluskan kepentingannya semata. Mereka juga jangan diberi panggung. Buang juga mereka itu jauh-jauh.
Akhirnya semoga pola baru dalam membentuk koalisi dan kerjasama antar partai politik ini akan memberi dampak positif ke depannya. Membuat Indonesia lebih tenang. Seumpamayapun berisik, tapi dengan konten-konten yang lebih bermutu.


0 comments:
Post a Comment