Hampir semua pengamat politik menyebut bahwa Presiden Jokowi bakal menjadi King Maker di Pilpres 2024. Ada berbagai macam alasan ya. Seperti tingginya kepuasan rakyat terhadap kinerja Presiden Jokowi di berbagai survei. Solidnya TNI dan Polri di bawah komando Presiden Jokowi. Yang pasti Presiden Jokowi tidak hanya membangun banyak infrastruktur. Menuntaskan yang mangkrak-mangkrak. Tapi juga berhasil membawa bangsa dan negara ini melewati badai pandemi global. Badai pandemi baru terlewati. Nafas masih ngos-ngosan. Datang lagi badai berikutnya, imbas perang Rusia - Ukraina. Yakni krisis energi, krisis pangan dan krisis ekonomi. Namun, saat ini, ketika di luar sana ada negara yang bangkrut dan terancam bangkrut, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru melonjak.
Presiden Jokowi juga dikenal rakyat sebagai orang yang kuat, fisik dan mental. Tidak klemar klemer, tidak plonga plogo seperti yang dulu sering disebut kadrun. Faktanya sosok kurus itu justru lebih kuat dan lebih bernyali. Beliau dihormati oleh para pemimpin negara lain. Diberi amanah untuk memimpin sekelompok negara yang dikenal sebagai G20. G20 ini kumpulan negara yang merepresentasikan lebih dari 80 persen perekonomian dunia, 75 persen perdagangan internasional dan 60 persen populasi dunia Sumber. Betapa powerful-nya, betapa besar kekuatan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Paham, drun?
Kembali ke politik tanah air. Wajar jika Presiden Jokowi disebut sebagai King Maker kan? Sama negara adidaya macam Amerika Serikat dan China saja, Presiden Jokowi dikenal bernyali dan nggak mau ngalah. Apalagi sekedar mengatasi gerombolan pengacau di tanah air. Tentunya dengan cara yang tidak frontal. Dengan tangan dan kepala dingin. Kita rakyat ini, tahunya kan, yang biasanya ribut-ribut menjelang Natal ehh kok nggak ada lagi suaranya? Gitu lho. Paling tinggal MUI itu kan yang suka julid ngurusin macem-macem. Tapi orangnya ya itu-itu aja sih. Sudah tahu lah kita.
Sama halnya dengan soal calon presiden yang akan didukung oleh Presiden Jokowi. Beliau memang belum memberikan pernyataan resmi tentang siapa orangnya. Namun, ada kode keras yang bisa dilihat oleh publik. Kode keras itu mengarah ke satu orang, yakni Ganjar Pranowo. Pertama, dari seringnya Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke daerah Jawa Tengah. Terakhir kan, Presiden Jokowi ke Boyolali dan Sukoharjo ya. Dalam rangka melakukan penanaman kelapa genjah, sebagai upaya mengatasi krisis pangan yang sedang melanda dunia. Kelapa genjah ini usia tanam hingga berbuahnya singkat. Hasilnya bisa diolah jadi bermacam produk ya, seperti gula semut, minyak kelapa dan minuman segar Sumber. Sebelum itu, Presiden Jokowi juga berkunjung ke Solo, untuk menutup gelaran ASEAN Para Games 2022 Sumber. Nahh, di Solo ini ada kode keras berikutnya yang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi.
Yakni pada keesokan harinya, di acara car free day ya. Presiden Jokowi nampak berjalan bareng dengan Ganjar Pranowo dan Menteri BUMN Erick Thohir. Kita juga melihat keakraban antara Ganjar dan Erick Thohir. Pengamat politik pun menyebut momen ini sebagai ajang bagi Presiden Jokowi untuk menunjukkan bahwa Ganjar Pranowo dan Erick Thohir adalah anak emas beliau Sumber.
Bagi saya, ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi sedang menegaskan standard mutu atau kualitas calon presiden buat 2024. Seakan Presiden Jokowi ngomong, ini lho, kalau mau nyari capres yang mirip saya, ya kombinasi dari kedua orang ini : Ganjar dan Erick. Yang satu punya latar belakang birokrat atau pejabat publik, dan satunya punya latar belakang pengusaha. Kan mirip ya dengan Presiden Jokowi sendiri. Seorang pengusaha yang kemudian menjadi pejabat publik. Kita kan nggak mungkin menemukan sosok yang saklek seperti foto copy atau kloningan dari Presiden Jokowi. Itu suatu hil yang mustahal, gitu kan. Namun, ada solusinya. Yakni dua orang, yang jika digabung akan menjadi persis seperti sosok Presiden Jokowi. Itulah Ganjar Pranowo dan Erick Thohir.
Nahh, Presiden Jokowi sudah sets the standard, menentukan standar kualitas yang harus dimiliki oleh calon presiden 2024. Ingat, sebelumnya, pada bulan Juni lalu, dalam acara HUT Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Presiden Jokowi sempat bicara soal capres 2024. Beliau tidak menyebut siapa nama orang. Namun, yang ditegaskan adalah soal kelanjutan program. Pemimpinnya siapa pun terserah, kata Presiden Jokowi. Tapi yang dilanjutkan adalah programnya, supaya ada kontinuitas, supaya ada keberlanjutan, begitu kata beliau Sumber.
Artinya, sosok seperti Anies Baswedan ya jauh lah, nggak bakal dapat dukungan dari Presiden Jokowi. Karena di Jakarta saja, Anies ogah meneruskan program-program dari gubernur sebelumnya, padahal program itu bagus. Seperti normalisasi sungai dan rajin membersihkan saluran-saluran air untuk menangani banjir. Tapi soal penggusuran dan pemberian IMB di area reklamasi, dia pakai aturan yang dibikin gubernur sebelumnya. Kayak nggak mau disalahkan gitu, hehehe... Culas ya. Jadi nggak mungkin Anies ini bisa disamakan dengan sosok Ganjar maupun Erick Thohir.
Kode keras Presiden Jokowi ke arah Ganjar Pranowo juga pernah diperlihatkan Presiden Jokowi dalam acara para relawan, Rakernas Projo, pada bulan Mei lalu ya. Presiden Jokowi kan bilang gini, “Meskipun mungkin yang kita dukung ada di sini, sudah dibilang jangan tergesa-gesa, ojo kesusu”. Pernyataan itu disampaikan beliau di depan para relawan dan Ganjar Pranowo yang ikut hadir di sana Sumber.
Sinyal-sinyal lain juga disampaikan oleh pihak lain, selain Presiden Jokowi. Seperti PPP, yang mengungkap 3 nama yang disebut didukung oleh Presiden Jokowi saat ini. Yakni Ganjar Pranowo, Prabowo dan Sandiaga Uno Sumber. Sedangkan PAN Jawa Barat menyebut 3 nama yang diusulkan jadi capres 2024 di luar capres internal mereka, yakni Ridwan Kamil, Erick Thohir dan Ganjara Pranowo Sumber. Seperti kita ketahui, PPP, PAN dan Golkar sudah resmi membentuk koalisi partai, yaitu Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) untuk Pemilu 2024. PAN sendiri juga sudah bergabung ke dalam partai-partai pengusung pemerintahan Presiden Jokowi. Artinya, mereka masih fleksibel ya. Dalam menentukan capres yang bakal diusung. Tidak harus dari Ketua Umum partai gitu.
Sementara itu, Erick Thohir baru saja mendapatkan amanah dari ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU). NU ini memang terbesar ya. Dalam sebuah survei NU disebut memiliki basis massa sekitar 41,9 persen di Indonesia. Artinya sekitar 80 hingga 90 juta pemilih Indonesia terafiliasi dengan NU Sumber. Erick Thohir sebelumnya telah dijadikan sebagai anggota kehormatan Banser NU. Dan sekarang, Erick Thohir ditunjuk sebagai Ketua Steering Committee (Panitia Pengarah) peringatan satu abad NU. Yang acara puncaknya bakal digelar pada awal Februari 2023 Sumber. Penunjukan ini bukan berdasarkan politis ya. Namun, akan memberikan dampak politis terhadap Erick Thohir. Selain mendapatkan panggung politik, Erick juga mendapatkan kedekatan dengan massa NU. Anies pasti iri nih hehehe… Di sisi Ganjar, menurut survei dari lembaga SMRC, mayoritas massa NU disebut cenderung memilih Ganjar sebagai capres Sumber. Udah pas banget dong sama Erick Thohir ya.
Nahh… Jika Presiden Jokowi sudah menegaskan standard untuk seorang capres yang akan beliau dukung. Maka partai-partai politik ya tinggal menyikapinya. Saya yakin endorsement dari Presiden Jokowi akan mendapatkan porsi terbesar dalam pertimbangan partai politik menentukan arah dukungan mereka.
Maka kita bisa mencoba memprediksi siapa-siapa saja yang bakal maju di Pilpres 2024. Berdasarkan kondisi saat ini ya. Ada kode keras dari Presiden Jokowi. Ada deklarasi koalisi Kebangkitan Indonesia Raya, oleh partai Gerindra dan PKB. Ada penegasan dari Gerindra bahwa Prabowo akan kembali maju di Pilpres 2024. Dan ada pula partai-partai yang belum berkoalisi. Yang posisinya merupakan partai oposisi, dan punya ketua umum yang berambisi nyapres. Dari semua kondisi tersebut, maka ada 3 pasangan yang bakal bertemu di Pilpres 2024. Yakni pasangan Ganjar-Erick, pasangan Prabowo-Cak Imin, dan pasangan Anies-AHY atau AHY-Anies gitu lah. Gimana menurut anda? Selalu dari kura-kura!




0 comments:
Post a Comment