Search

Wednesday, August 17, 2022

Upacara di Istana Merdeka Merah Putih Berkibar, SBY Ngumpet, Anies Kepanasan


 Menakar nasionalisme dari Susilo Bambang Yudhoyono adalah hal yang sangat mudah sekali. Kita tinggal lihat saja mengenai nasionalismenya saat rapat paripurna pada hari ini. Ketika banyak mantan presiden dan juga wakil presiden datang untuk menjadi tamu kehormatan, Susilo Bambang Yudhoyono malah ada di Malaysia untuk nggak tahu ngapain saya nggak peduli juga sih.

Tapi yang pasti kita melihat bahwa beberapa kali Susilo Bambang Yudhoyono tidak hadir di acara pidato kenegaraan presiden Joko Widodo yang seringkali menggemparkan dan begitu memberikan inspirasi bagi politik di Indonesia. Kita melihat bagaimana presiden Joko Widodo dalam rapat paripurna di majelis permusyawaratan rakyat Indonesia memberikan pidato yang sangat baik.


Pidato tersebut menyentuh banyak aspek baik dari ideologi politik ekonomi sosial budaya dan hal-hal yang menjadi keresahan masyarakat Indonesia. Secara ideologi presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia harus lepas dari politik identitas yang sempat dilakukan oleh Anies Baswedan yang merupakan mantan peserta konvensi Demokrat.

Secara politik presiden Joko Widodo juga menyentuh hal-hal yang sangat esensial yakni kepartaian suatu lembaga negara. Secara sosial budaya presiden Joko Widodo juga menyatakan bahwa kebudayaan Indonesia itu sangatlah kaya sehingga dia bisa menggunakan pakaian adat pakaian adat yang begitu beragam.

Saat ini presiden Joko Widodo menggunakan pakaian adat dari Bangka Belitung Yang merupakan provinsi tempat Ahok besar dan menjadi Bupati di sana.

Sebagai korban politik identitas, Ahok tentu merupakan orang yang paling kasihan saat kalah melawan Anies Baswedan yang didukung oleh radikalisme dan ormas Pro teroris.

Keberadaan presiden Joko Widodo dalam dukungannya kepada Ahok tidak bisa dilihat dan dilakukan secara langsung. Karena presiden Joko Widodo sendiri paham bahwa proses hukum tidak boleh ia intervensi sama sekali.

Karena saat itu banyak sekali orang-orang yang menunggangi kasus Ahok ini termasuk partai-partai yang memiliki ribuan proyek mangkrak.

Dan saat itu presiden Joko Widodo tidak boleh sembarangan bergerak dan dia menunggu waktu untuk menghancurkan segala radikalisme dan potensi-potensi teroris yang terjadi. Selama 10 tahun radikalisme bertumbuh sangat subur dengan keberadaan Hizbut tahrir Indonesia dan juga front pembela yang dipimpin oleh Rizieq Shihab.

Para pemain-pemain politik busuk ini pada akhirnya ketahuan dan membusuk dari dalam. Orang-orang pentingnya dipenjara satu persatu karena tindakan yang mereka lakukan.

Bahkan ini diduga kuat didorong oleh politisi partai mangkrak. Saya mempertanyakan nasionalisme dari mantan presiden sebelum presiden Joko Widodo.

Seharusnya sebagai mantan presiden dia bisa memberikan teladan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 ataupun dalam waktu-waktu di bulan-bulan kemerdekaan ini mereka nggak usah pergi ke luar negeri lah. Hanya untuk menjadi contoh dan showcase bagi masyarakat Indonesia untuk mencintai negaranya.

Mungkin ekspektasi saya terlalu berlebihan tapi memang itulah yang harusnya dilakukan oleh seorang pemimpin atau mantan pemimpin. Tapi kayaknya memang sakit hati itu nggak pernah bisa disembuhkan karena memang orang ini bawa perasaan terus. Coba saja di depan telinganya bisiki kalimat atau kata-kata ini. 411 212.

Mungkin dia langsung panas seperti panci yang lagi di penjara. Sebagai pemimpin atau mantan pemimpin sudah seharusnya merayakan kemerdekaan itu di dalam negeri.

Saat ini yang harus kita lakukan bukanlah melawan penjajah melainkan melawan pendukung Anies Baswedan dan Anies Baswedan yang merupakan maskot dari radikalisme terorisme.

Kita harus merdeka dari mangkraknya pemikiran-pemikiran partai mangkrak. Denger-denger dia nggak ikut acara 17-an di Istana merdeka hari ini. Padahal sebagai mantan presiden dia harusnya mendapatkan undangan dan dijadikan tamu terhormat tapi dia tidak memilihnya karena dia malu? Atau mangkrak?

0 comments:

Post a Comment