Search

Wednesday, August 17, 2022

Prabowo Remuk Tanpa Bentuk


 Pastilah kita semua masih ingat bagaimana sosok Prabowo Subianto di kisaran tahun 2014 sampai 2019. Beberapa tahun sebelum 2014, Prabowo diyakini sebagai calon terkuat untuk menggantikan SBY yang akan selesai pada 2014. Doi sudah duduk anteng di istana selama 2 periode, maka tidak boleh nambah lagi.

Bahkan sebenarnya pada 2009, kans Prabowo cukup kuat untuk menyaingi SBY yang maju untuk periode kedua. Namun karena dia hanya jadi cawapres, banyak orang yang kurang sreg. Kata mereka, mestinya Prabowo yang jadi capres. Ketika itu ada spanduk berbentuk dukungan hanya untuk Prabowo saja. Bunyinya kira-kira: “coblos Prabowo”. Nama capresnya tidak disinggung-singgung. Artinya, mereka hanya melihat Prabowo, bukan yang lain.

Pilpres 2009, SBY yang berpasangan dengan Budiono, dengan mudah menyingkirkan rival dengan kemenangan 65%. Ada keyakina, seandainya Prabowo yang menjadi lawan SBY sebagai sesama capres waktu itu, hasilnya tentu beda. Atau kalapun kalah tidak sampai setelak itu. Mungkin kira-kira sewaktu melawan Jokowi-lah, selisih kekalahan cuma 5%-an.

Maka ketika tahun 2014 SBY tidak bisa jadi capres lagi, nama Prabowo menjadi sangat kuat sebagai the next. Penulis dan banyak kawan ketika itu juga mengidolakan Prabowo.

Namun siapa nyana Jokowi yang sedang menjadi gubernur DKI Jakarta pada 2012, dalam setiap survei capres namanya sangat menjulang, malah jauh melewati Prabowo. Mungkin Prabowo dan timnya waktu itu tidak terlalu ambil peduli dengan majunya Jokowi - Kalla jadi capres 2014 melawan Prabowo – Hatta.


Sebab, siapa sih yang bisa menandingi sosok dan popularitas Prabowo yang sudah terkenal sejak zaman Pak Harto? Dia militer yang cemerlang, bahkan sempat menjadi pangkostrad, sebelum karirnya hancur berantakan, menyusul lengsernya Soeharto, yang adalah (mantan) mertuanya.

Bukan cuma itu, Prabowo berlatar belakang keluarga terpandang dan terhormat. Ayahnya, Soemitro Djojohadikoesoemo, ekonom terkemuka, bereputasi dunia. Bahkan pernah menjadi menteri di era Sukarno dan Soeharto.

Sangat jauh dibandingkan dengan Jokowi yang meskipun gubernur DKI Jakarta, dan mantan walikota Solo, namun berlatar belakang keluarga sederhana (miskin). Bahkan rumah di masa kecilnya pernah digusur oleh pemerintah daerah setempat. Sebelum dikenal publik sebagai walikota, Jokowi hanyalah seorang tukang kayu, atau paling banter juragan meubel.

Tapi tahun 2014 Jokowi mengatasi semua “kelebihan” Prabowo. Dia menang pilpres sekalipun di tengah serangan hoaks, fitnah sebagai PKI, dan sebagainya. Seluruh serangan dan fitnah itu diyakini menjadi salah satu senjata pamungkas pihak lawan untuk mempermudah proses kemenangan itu.

Sebelumnya, ketika mendapati lawannya ternyata adalah Jokowi, suasana hati Prabowo tentu bergejolak panas. Pertama, dia merasa dikhianati, karena merasa punya andil besar membawa Jokowi ke Jakarta. Bahkan konon beredar isu jika sudah ada perjanjian antara PDIP dan Prabowo, tidak akan mencapreskan Jokowi pada 2014.

Namun apa hendak dikata, Prabowo pun “tersandung” hingga jatuh terjerembap sebanyak dua kali. Maka bisa dibayangkan bagaimana sakit hatinya Prabowo ketika itu. Merasa masih punya kans untuk membalas dendam 2019, Prabowo dan jajarannya semakin intensif melakukan banyak cara untuk memenangkan Pilpres 2019. Isu PKI tetap dimainkan, meski akhirnya mentah setelah La Nyalla Mattalitti, pecah kongsi dengan Prabowo, lalu mengaku salah, dan minta maaf soal tudingan massif ke pihak Jokowi sebagai PKI.

Kubu Prabowo memanfaatkan betul “partisipasi” gerombolan kadrun yang menjadi pendukung militan Prabowo. Bahkan mereka ngotot bahwa Prabowo itu pilihan agama untuk membuat agama kembali berjaya. UAS dan UAH dua penceramah agama yang sangat kondang silih berganti datang mendoakan dan meyakinkan bahwa Prabowo akan menang, sebab pilihan umat. Tapi semua hanya isapan jempol.

Di masa-masa itu, nyata sekali sosok Prabowo yang garang dan beringas terhadap lawan politiknya di 2019. Misalnya ketika Ratna Sarumpaet mengaku digebuki hingga penyok, entah apa juntrungannya Prabowo cs., didampingi Fadli Zon bikin konferensi pers yang seolah ingin menggiring bahwa pelakunya adalah kubu lawan? Ratna memang salah satu simpatisan militan Prabowo.

Sosok Prabowo yang sangar menakutkan itu kembali diperlihatkan saat kampanye di sebuah tempat. Prabowo tiba-tiba saja seperti marah sambil membanting-banting meja kayu di sampingnya dengan telapak tangannya sekuat tenaga. Untung Amien Rais segera menenangkannya. Entah apa yang membuat dia tiba-tiba geram dan memukul-mukul meja? Apakah karena sosok Jokowi tiba-tiba muncul di pikirannya?

Berbagai manuver yang dilakukan para simpatisannya, termasuk mendemo KPU sambil menyebarkan tudingan “KPU Curang”, terkesan mengada-ada dan ngaco-gelo. Sebab pemilu saja belum, tetapi sudah dituduh curang? Itu sebuah strategi untuk mempengaruhi masyarakat supaya tidak percaya jika nanti lawan mereka menang. Strategi seperti itu jahat dan culas sekali. Dan itu dianggap mewakili sosok Prabowo yang sangat ngebet dan bernafsu memenangkan Pilpres 2019 itu.

Ketika berdasarkan quick count Jokowi-Ma’ruf menang dengan selisih 5%, tak terbayangkan bagaimana “ganas”nya Prabowo ketika itu. Dia dan pengikutnya lempar isu, tuding curang sana sini. Menyatakan dirinya sebagai pemenang dengan hitung-hitungan mereka sendiri. Prabowo ketika itu sangat menyeramkan. Hanya keputusan MK yang meneguhkan kemenangan Jokowi bisa membuatnya menerima kenyataan. Dia bahkan mau menjadi menteri pertahanan.

Bergabungnya Prabowo ke Jokowi, bahkan menjadi bawahannya, menghancurkan reputasi Prabowo di mata banyak mantan pengikutnya. Apalagi belakangan dia sering memuji dan menyanjung Jokowi. Mungkin, kata orang, itu adalah sebuah strategi untuk mengambil hati Jokowi untuk mendukungnya pada 2024. Tetapi di mata banyak orang, Prabowo sudah takluk di tangan Jokowi.

Dan hari ini, pada momen perayaan 17 Agustus 2022, usai upacara pengibaran Sang Merah Putih, dalam acara hiburan tampi si Farel membawakan lagu "Ojo Dibandingke" yang membuat seluruh hadirin, termasuk Jokowi dan Iriana, bergoyang-goyang.

Yang lebih seru, sejumlah menteri maju ke dekat Farel sambil ikutan berjoged ria. Prabowo Subianto juga turut maju ke depan, berjoged di depan hadirin.

Seru, sebab lirik lagu itu sebagai pujian untuk Jokowi, dan Prabowo yang dulu menjadi lawan tangguh Jokowi ikut larut dalam joged. Doi tampak sumringah, meski gayanya kaku.

Namun di mata banyak orang, Prabowo saat itu semakin remuk tanpa bentuk di hadapan Jokowi!

0 comments:

Post a Comment